
Pada tahun 1961 berdirilah Komando Resimen Daerah IX Sulawesi yang membawahi 2 Batalyon definitif, 2 Batalyon Persiapan dan 4 Kompi Otonom dan Kemudian pada tanggal 16 Februari 1961 diresmikan berdirinya Batalyon Mobile Brigade Sulawesi yang berkedudukan 2 Batalyon di Makassar yaitu Batalyon 935 di Tallo dan Batalyon 936 di Pa`Baeng-baeng.
Pada tahun 1972 terjadi refungsional terhadap Korps Brimob Polri pada saat itu didasari dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep / 05 / III / 1972 tentang Refungsionalisasi dan Reorganisasi Korps Brimob yang isinya :
Pada Tahun 1983 terjadi likuidasi lagi oleh Kapolda Sulsel dari 2 Kompi menjadi 1 Kompi pemantapan 5275 BS di Pa’baeng-baeng dengan pusat komandan berada di Satbrimobda Sulsel Jl. K.S. Tubun No. 10 Makassar yang dipimpin oleh Letkol Pol Ilyas Abbas.
Pada tahun 1997 Satbrimob Direktorat Samapta Polda Sulsel di Validasi menjadi Satuan Brimob Daerah Sulsel yang semula 1 Kompi menjadi 1 Batalyon yaitu Batalyon A di Pa’baeng-baeng Berdasarkan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep / 11 / XII / 1997 dan dipimpin oleh Letkol Pol Drs. Dahman Priatna, S.H. selaku Dansat Brimobda Sulsel dan lambang satuan Batalyon A “Kanatojeng”.
Dengan tunggul sebagai berikut :

KANA TOJENG berarti satunya kata dengan perbuatan yang melambangkan bahwa anggota Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulsel dalam melaksanakan tugas konsisten dan sungguh-sungguh mengabdikan dirinya
Di tahun 2000 Berdasarkan Keputusan Kapolri No. Pol : Kep 05 / X / 2000 tanggal 10 Oktober 2000 Polda Sulsel mengalami perubahan type B menjadi type A secara otomatis organisasi Sat Brimob Polda type B menjadi Sat Brimob type A yang terdiri dari 3 Batalyon yaitu Batalyon A berkedudukan di Pa’baeng-baeng, Batalyon B berkedudukan di Pare-pare dan Batalyon C yang rencananya berkedudukan di Watangpone Bone.
Perkembangan terus berjalan sehingga tahun 2002 Berdasarkan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep / 59 / X / 2002 tanggal 18 Oktober 2002 tentang penentuan besaran kekuatan personil Sat Brimob dan kepangkatan Kasat Brimob Polda, maka Sat Brimob Polda Sulsel membawahi 3 (tiga) Detasemen dan 1 (satu) Subden Gegana yaitu : Detasemen A berkedudukan di Makassar,Detasemen B berkedudukan di Kodya Pare-pare.Detasemen C berkedudukan di Watampone Kab. Bone dan Subden Gegana berkedudukan di Makassar yang mana nama batalyon diganti menjadi detasemen dengan lambang satuan berupa duaja ”SATYA HARINA TAMA”
Berdasarkan Keputusan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2018 tanggal 21 September 2018 tentang struktur organisasi dan tata kerja kepolisian daerah, oleh sebab itu perubahan nomenklatur dan titelatur pada penyebutan Satbrimob dari Kepala Satuan menjadi Komandan Satuan serta diikuti penyebutan Subden menjadi Detasemen dan Detasemen menjadi Batalyon Pelopor dengan lambang satuan yang tidak berubah tetapi nama dan penyebutan yang berubah.
Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulsel sebagai bagian integral Polri juga memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan dan menggerakkan kekuatan Brimob Polri dalam menanggulangi gangguan Kamtibmas berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan terorganisasi bersenjata api, Search and Rescue (SAR) yang digunakan dalam tugas-tugas kemanusiaan dalam membantu dan mengevakuasi korban bencana alam yang terjadi di Indonesia yang pelaksanaan tugas Batalyon A tersebut dilandaskan atas fungsi Brimob Polri sebagai satuan pamungkas Polri (Striking Force) yang memiliki kemampuan spesifik penanggulangan keamanan dalam negeri yang berkadar tinggi.
Dalam menghadapi ancaman tugas kedepan yang semakin berat dan kompleks Batalyon A Pelopor selalu melakukan perubahan baik dalam hal meningkatkan kemampuan personel, persenjataan dan perlengkapan baik perorangan dan satuan. Selain bidang pembinaan yang memiliki peranan penting dalam suatu organisasi, bidang operasional satuan juga sangat memiliki peranan yang penting terutama dalam memberikan warna atau corak kepemimpinan pada suatu kesatuan. akan dinilai baik dan berhasil apabila dalam bidang operasional dan pembinaan memiliki integritas dan soliditas tinggi, diawali dengan tampilan perorangan maupun kesatuan yang memiliki semangat tinggi dalam setiap pergerakan dan profesional dalam melaksanakan tugas sesuai dengan moto operasional kesatuan’ “Sekali Melangkah Pantang Menyerah Sekali Tampil Harus Berhasil” dengan tetap memegang teguh motto pengabdian “ Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan “ sesuai koridor hukum dan peraturan yang ada.